BAB
I
PENDAHULUAN
A.Latar
Belakang
Mereka
yang sedang menunggu suatu berita yang penting, atau mereka yang hidup dalam
situasi yang sulit untuk diperkirakan, seringkali merasakan suatu kecemasan,
suatu kondisi umum saat kita sedang berusaha mengantisipasi sesuatu, atau
ketegangan psikologis. Orang-orang yang berada pada suatu situasi berbahaya
atau situasi yang tak dikenal, seperrti terjun payung untuk pertama kaliya atau
mendapati dirinya berhadapan dengan seekor ular kobra, cenderung merasakan
ketakuatn. Apabila berlangsung dalam situasi jagka pendek, emosi-emosi tersebut
akan bersifat adaptif, karena emosi tersebut memberikan kita tenaga untuk dapat
menghadapi situasi bahaya tersebut. Emosi-emosi tersebut akan memastikan kita
tidak akan melakukan terjun payung tanpa memiliki pengetahuan mengenai
bagaimana menggunakan parasut, dan akan memastikan kita untuk menjauh dari
kobra tersebut.
B.Rumusan Masalah
1.Apa yang di maksud dengan kecemasan ?
2.Bagaimana tipe-tipe kecemasan ?
3.apa yang di maksud dengan pendekatan perspektif teoritis?
4.Bagaimana cara mencegah munculnya kecemasan ?
BAB II
PEMBAHASAN
A.P engertian
Kecemasan
Kecemasan atau dalam Bahasa Inggrisnya “anxiety” berasal dari Bahasa
Latin “angustus” yang berarti kaku, dan “ango, anci” yang berarti mencekik.
Konsep kecemasan memegang peranan yang sangat mendasar dalam teori-teori
tentang stres dan penyesuaian diri (Lazarus, 1961). Menurut Post (1978),
kecemasan adalah kondisi emosional yang tidak menyenangkan, yang ditandai oleh
perasaan-perasaan subjektif seperti ketegangan, ketakutan, kekhawatiran dan
juga ditandai dengan aktifnya sistem syaraf pusat. Freud (dalam Arndt, 1974)
menggambarkan dan mendefinisikan kecemasan sebagai suatu perasaan yang tidak
menyenangkan, yang diikuti oleh reaksi fisiologis tertentu seperti perubahan
detak jantung dan pernafasan. Menurut Freud, kecemasan melibatkan persepsi
tentang perasaan yang tidak menyenangkan dan reaksi fisiologis, dengan kata
lain kecemasan adalah reaksi atas situasi yang dianggap berbahaya.
Lefrancois (1980) juga
menyatakan bahwa kecemasan merupakan reaksi emosi yang tidak menyenangkan, yang
ditandai dengan ketakutan. Hanya saja, menurut Lefrancois, pada kecemasan
bahaya bersifat kabur, misalnya ada ancaman, adanya hambatan terhadap keinginan
pribadi, adanya perasaan-perasaan tertekan yang muncul dalam kesadaran. Tidak
jauh berbeda dengan pendapat Lefrancois adalah pendapat Johnston (1971) yang
menyatakan bahwa kecemasan dapat terjadi karena kekecewaan, ketidakpuasan,
perasaan tidak aman atau adanya permusuhan dengan orang lain. Kartono (1981)
juga mengungkapkan bahwa neurosa kecemasan ialah kondisi psikis dalam ketakutan
dan kecemasan yang kronis, sungguhpun tidak ada rangsangan yang spesifik.
Menurut Bucklew (1980), para
ahli membagi bentuk kecemasan itu dalam dua tingkat, yaitu:
Tingkat psikologis.
Kecemasan yang berwujud sebagai gejala-gejala kejiwaan, seperti tegang,
bingung, khawatir, sukar berkonsentrasi, perasaan tidak menentu dan sebagainya.
2. Tingkat fisiologis.
Kecemasan yang sudah mempengaruhi atau terwujud pada gejala-gejala fisik,
terutama pada fungsi sistem syaraf, misalnya tidak dapat tidur, jantung
berdebar-debar, gemetar, perut mual, dan sebagainya.
Gangguan kecemasan adalah gangguan yang
menyebabkan anak-anak dan orang dewasa merasa takut, sedih dan gelisah tanpa
alasan yang jelas. Meskipun sebagian besar pengalaman ketakutan remaja dan
kekhawatiran yang dapat dicap sebagai kecemasan, dimana yang hadir dalam
gangguan kecemasan sebenarnya menghambat kegiatan sehari-hari (Christophersen
& Mortweet, 2001). Masalah berkaitan dengan kecemasan yang relatif umum di
masa muda, dengan tingkat prevalensi klinis seumur hidup masalah mulai dari 6 sampai 15%
(Silverman & Ginsburg, 1998; US Public Health Service, 2000). Para
prevalensi gangguan kecemasan di masa muda lebih
tinggi dibandingkan hampir semua gangguan mental lainnya (US Department of
Health and Human Service, 1999). Pemuda dengan pengalaman masalah
kecemasan yang signifikan dan sering berlangsung gangguan,
seperti masalah sosial, konflik keluarga, dan kinerja yang buruk di sekolah dan
bekerja (Langley, Bergman, McCracken & Paiacentini, 2004).
Gangguan Anxietas
didiagnosis jika secara jelas terdapat perasaan cemas yang dialami secara
subjektif.DSM-IV-TR mengajuan enam kategori utama : fobia, gangguan panik,
gangguan anxietas menyeluruh, gangguan obsesif kompulsif, gangguan stres pasca
trauma, dan gangguan stres akut. Terkadang seseorang yang menderita satu
gangguan anxietas juga memenuhi kriteria diagnostik gangguan lain, sebuah
situasi yang disebut komorbiditas.Psikologi
abnormal mempunyai beberapa kriteria yang digunakan untuk pertimbangan,
gangguan psikologis disebut juga gangguan mental yang mempunyai bentuk yang
berbeda dalam budaya berbeda dan memiliki pandangan atau model-model yang
menjelaskan perilaku abnormal juga bervariasi antar budaya. Penanganan pada
orang-orang yang mengalami gangguan mental telah berubah sepanjang waktu
(perkembangan rumah sakit jiwa), berbagai gambaran metode yang dapat digunakan
dalam penelitian Psikologi abnormal adalah dengan metode Ilmiah, metode
Observasi, natoralistik, dsb.
Perspektif-perspektif kontemporer yang utama tentang perilaku abnormal, termasuk perspektif biologis, psikologis dan sosiokultural yang masing-masing memiliki ciri-ciri tersendiri dalam perspektif. Faktor-faktor biologis yang berkaitan dengan perkembangan perilaku abnormal meliputi gangguan-gangguan dalam fungsi neurotransmiter pada otak, herediter, dan abnormalitas otak yang mendasar.Pola-pola perilaku abnormal digolongkan menjadi beberapa hal yang dimulai dari sistem utama yang dipakai klinisi untuk menggolongkan pola perilaku abnormal yaitu Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM). DSM adalah sistem klasifikasi gangguan-gangguan mental yang paling luas diterima.
Perspektif-perspektif kontemporer yang utama tentang perilaku abnormal, termasuk perspektif biologis, psikologis dan sosiokultural yang masing-masing memiliki ciri-ciri tersendiri dalam perspektif. Faktor-faktor biologis yang berkaitan dengan perkembangan perilaku abnormal meliputi gangguan-gangguan dalam fungsi neurotransmiter pada otak, herediter, dan abnormalitas otak yang mendasar.Pola-pola perilaku abnormal digolongkan menjadi beberapa hal yang dimulai dari sistem utama yang dipakai klinisi untuk menggolongkan pola perilaku abnormal yaitu Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM). DSM adalah sistem klasifikasi gangguan-gangguan mental yang paling luas diterima.
DSM menggunakan
kriteria diagnostic spesifik untuk mengelompokkan pola-pola perilaku abnormal
yang mempunyai ciri-ciri klinis yang sama dan suatu sistem evaluasi yang
multiaksiel. Sistem DSM terdiri dari dari 5 klasifikasi yang juga mempunyai
kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan utama. Penilaian perilaku abnormal
dapat ditelaah menggunakan berbagai cara (metode) salah satunya metode-metode
assessment yang harus reliabel dan valid yang dapat diukur melalui beberapa
cara yang tetap memperhitungkan faktor-faktor budaya dan etnik yang juga
penting untuk dilakukan. Metode-metode tetap assessment meliputi wawancara
klinis, tes psikologi, assessment neuropsikologis, behavioral assessment dan
assessment kognitif. Selain itu para peneliti dan klinisi penting unuk
mempelajari fungsi fisiologis yang akan mengungkap bagaimana bekerjanya otak
dan struktur dari otak. Ahli
kesehatan mental terdiri dari beberapa tipe yang berbeda-beda dalam latar
belakang pelatihan mereka, tetapi meskipun begitu mereka mempunyai tujuan utama
yaitu untuk dapat mengembalikan kenormalan seseorang yang disebabkan oleh
berbagai faktor seperti faktor-faktor berikut ini
Gangguan Penyesuain Dan Stress Gangguan penyesuaian
adalah reaksi maladaptif terhadap stresor yang sudah dikenali. Gangguan ini
ditandai dengan adanya reaksi emosional yang lebih besar dari reaksi normal.
Kemunculan stress berkaitan dengan kelemahan fungsi kekebalan tubuh yang
selanjutnya meningkatkan kerentanan terhadap penyakit fisik. Pola respon
biologis umum terhadap strees yang berkepanjangan dijelaskan dengan adanya
sindrom adaptasi menyeluruh yang ditandai dengan adanya tiga tahap.
Perubahan hidup sehari-hari yang membuktikan bahwa semakin hari semakin banyak jumlah orang yang stress akan meningkatkan tingginya masalah kesehatan. Untuk menangani masalah masalah yang ada kita dapat memanfaatkan peranan faktor psikologis alam berbagai gangguan fisik yang dapat menangani beberapa penyakit seperti sakit kepala, kanker, dsb. Selain itu kita juga dapat menggunakan jasa ahli kesehatan atau terapi-terapi kesehatan yang ada untuk membantu penyembuhan gangguan ini, atau kita dapat memilih untuk melakukan perawatan di pusat kesehatan mental komunitas dalam sistem kesehatan maupun Rumah Sakit Jiwa.
Ada dua tipe gangguan stress yang terdiri dari stress akut dan gangguan stress pancatrauma.
Perubahan hidup sehari-hari yang membuktikan bahwa semakin hari semakin banyak jumlah orang yang stress akan meningkatkan tingginya masalah kesehatan. Untuk menangani masalah masalah yang ada kita dapat memanfaatkan peranan faktor psikologis alam berbagai gangguan fisik yang dapat menangani beberapa penyakit seperti sakit kepala, kanker, dsb. Selain itu kita juga dapat menggunakan jasa ahli kesehatan atau terapi-terapi kesehatan yang ada untuk membantu penyembuhan gangguan ini, atau kita dapat memilih untuk melakukan perawatan di pusat kesehatan mental komunitas dalam sistem kesehatan maupun Rumah Sakit Jiwa.
Ada dua tipe gangguan stress yang terdiri dari stress akut dan gangguan stress pancatrauma.
Kecemasan
Kecemasan merupakan salah satu gangguan psikologi abnormal yang bila berkelanjutan dapat menyebabkan gangguan mental yang juga merupakan suatu sensasi oprehensif atau takut yang menyeluruh. Hal ini adalah hal yang normal dan dikehendaki pada beberapa kondisi tetapi dapat menjadi abnormal bila berlebihan atau tidak sesuai. Gangguan kecemasan itu sendiri terdiri dari beberapa gangguan yaitu gangguan panik, kecemasan menyeluruh, fobia, obsesif, dan kompulsif.
Terdapat beberapa perspektif teoritis mengenai gangguan kecemasan yang masing-masing mempunyai definisi yang berbeda-beda. Penanganan gangguan kecemasan dapat dilakukan melalui pendekatan-pendekatan terapeutik dan yang banyak digunakan diantaranya adalah psikonalisis tradisional, pendekaan psikodinamika, terapi humanistik berfokus, terapi obat, pendekatan kognitif dan terapi behavioral.
Kecemasan merupakan salah satu gangguan psikologi abnormal yang bila berkelanjutan dapat menyebabkan gangguan mental yang juga merupakan suatu sensasi oprehensif atau takut yang menyeluruh. Hal ini adalah hal yang normal dan dikehendaki pada beberapa kondisi tetapi dapat menjadi abnormal bila berlebihan atau tidak sesuai. Gangguan kecemasan itu sendiri terdiri dari beberapa gangguan yaitu gangguan panik, kecemasan menyeluruh, fobia, obsesif, dan kompulsif.
Terdapat beberapa perspektif teoritis mengenai gangguan kecemasan yang masing-masing mempunyai definisi yang berbeda-beda. Penanganan gangguan kecemasan dapat dilakukan melalui pendekatan-pendekatan terapeutik dan yang banyak digunakan diantaranya adalah psikonalisis tradisional, pendekaan psikodinamika, terapi humanistik berfokus, terapi obat, pendekatan kognitif dan terapi behavioral.
Gangguan Identitas Disosiatif
Gangguan ini adalah
salah satu gangguan psikologis yang menarik sekaligus membingungkan yang
dulunya disebut gangguan kepribadian ganda ( identitas disosiatif ). Gangguan
ini mencakup perubahan /gangguan dalam identitas, ingatan atau kesadaran yang
mempengaruhi kemampuan untuk mempertahankan sense of self yang terintegrasi.
Gangguan disosiatif itu sendiri mempunyai beberapa tipe yaitu amnesiadiso,
fugue diso, gangguan depersonalisasi. Teoritikus psikodinamika memandang
gangguan disosiati melibatkan bentuk pertahanan psikologis yang ada hubungannya
dengan trauma pada masa anak-anak. Penanganan utama untuk gangguan identitas
disosiatif menggunakan terapi obat dan perhatian yang akan membantu orang yang
mengalaminya untuk mengintegrasikan pengalaman menyakitkan yang terdisosiasi
dari masa kanak-kanak. Gangguan yang hampir serupa dengan gangguan ini adalah
gangguan sematofom.
Ganguan Mood
Gangguan Mood dapat
merangsang terjadinya bunuh diri dan bila berkepanjangan dapat mengganggu
kesehatan mental. Mood adalah kondisi perasaan yang terus ada yang mewarnai
kehidupan psikologis kita. Gangguan mood yang berlangsung sangat lama akan
mengganggu fungsi sehari-hari. Gangguan ini mempunyai beberapa tipe seperti
depresi mayor, gangguan distimik, gangguan bipolar, gangguan siklotimik yang
dapat melewati suatu episode-episode yang disebut episode manik. Gangguan ini
juga dijelaskan dalam beberapa pandangan teoritis. Sedangkan bunuh diri bisa
dikatakan sebagi dampak dari gangguan mood yang tidak dapat diatasi.
Pendekatan teoritis yang utama untuk memahami bunuh diri diambil dari model psikodinamika klasik tentang kemarahan yang diarahkan kedalam teori durkeim. Orang yang akan bunuh diri biasanya sudah memberitahukan keinginannya itu dalam berbagai bentuk seperti ancaman, sehingga perlu kepedulian orang-orang disekitarnya karena biasanya orang ini akan nekat melakukan bunuh diri yang sebelumnya dia telah mengutarakan niatnya.
Pendekatan teoritis yang utama untuk memahami bunuh diri diambil dari model psikodinamika klasik tentang kemarahan yang diarahkan kedalam teori durkeim. Orang yang akan bunuh diri biasanya sudah memberitahukan keinginannya itu dalam berbagai bentuk seperti ancaman, sehingga perlu kepedulian orang-orang disekitarnya karena biasanya orang ini akan nekat melakukan bunuh diri yang sebelumnya dia telah mengutarakan niatnya.
Gangguan
Kepribadian
Gangguan kepribadian
adalah pola perilaku yang maladaptof
atau trait kepribadian yang berhubungan dengan kondisi stress personal yang merusak kemampuan orang
tersebut untuk berfungsi dalam peran sosial dan pekerjaan. Biasanya orang yang
mengalami gangguan ini merasa tidak perlu untuk mengubah diri, DSM
menggolongakn gangguan kepribadian pada Aksis II dan mengategorikannya menurut
kelompok yang mengikuti karakteristik : perilaku aneh/eksentrik; perilaku
dramatis, emosional, eratik, atau perilaku cemas dan ketakutan yang
masing-masing mempunyai ciri-ciri sendiri. Penggolongan gangguan ini masih
mengalami kontroversi tetapi mempunyai perspektif teoretis. Gangguan ini dalam
penanganan juga menggunakan beberapa terapi, misalnya terapi obat, terapi
kognitif behavioral, terapi psikodinamika.
Kategori gangguan kecemasan menurut
Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM) IV
yang
sering dibahas diantaranya adalah:
1)
Gangguan panik tanpa agoraphobia
2) Gangguan
panik dengan agoraphobia
3)
Agoraphobia tanpa riwayat gangguan panic
4) Phobia
spesifik
5) Phobia
social
6)
Gangguan obsesif-kompulsif
7)
Gangguan stres pasca traumatic
8)
Gangguan stres akut
9)
Gangguan kecemasan umum
10)
Gangguan kecemasan yang tidak terdefinisi
B.TIPE-TIPE GANGGUAN KECEMASAN
Anxiety
disorder memiliki bebrapa pembagian yang lebih spesifik. diantaranya:
1. Fobia
Fobia
adalah ketakutan yang berlebihan yang disebabkan oleh benda, binatang ataupun
peristiwa tertentu. sifatnya biasanya tidak rasional, dan timbul akibat
peristiwa traumatik yang pernah dialami individu. Fobia juga merupakan
penolakan berdasar ketakutan terhadap benda atau situasi yang dihadapi, yang
sebetulnya tidak berbahaya dan penderita mengakui bahwa ketakutan itu tidak ada
dasarnya.
Fobia
simpel: sumber binatang, ketinggian, tempat tertutup, darah. Yang menderita
kebanyakan wanita, dimulai semenjak kecil. Agorafobia: kata yunani,
agora=tempat berkumpul, pasar. Sekelompok ketakutan yang berpusat pada
tempat-tempat publik: takut berbelanja, takut kerumunan, takut bepergian.
Banyak wanita yang menderita ini dimulai pada masa remaja dan permulaan dewasa.
Simtom: ketegangan, pusing, kompulsi, merenung, depresi, ketakutan menjadi
gila. 90% dari suatu sampel: takut tempat tinggi, tempat tertutup, elevator.
Fobia
dibedakan menjadi dua jenis,yaitu:
a. Fobia Spesifik
Ketakutan
berlebih yang disebabkan oleh benda, atau peristiwa traumatik tertentu,
misalnya: ketakutan terhadap kucing (ailurfobia), ketakutan terhadap ketinggian
(acrofobia), ketakutan terhadap tempat tertutup (agorafobia), fobia terhadap
kancing baju, dsb.
b. Fobia Sosial
Ketakutan
berlebih pada kerumunan atau tempat umum. ketakutan ini disebabkan akibat
adanya pengalaman yang traumatik bagi individu pada saat ada dalam kerumunan
atau tempat umum. misalnya dipermalukan didepan umum, ataupun suatu kejadian
yang mengancam dirinya pada saat diluar rumah.
Penyebab:
Teori
Psikoanalitik: pertahanan melawan kecemasan hasil dorongan id yang direpres.
Kecemasan: pindahan impuls id yang ditakuti ke objek/situasi, yang mempunyai
hubungan simbolik dengan hal tersebut, Menghindari konflik yang direpres. Cara
ego untuk mcnghadapi masalah yang sesungguhnya konflik pada masa kanak-kanak
yang direpres. Teori Behavioral: hasil belajar kondisioning kfasik,
kondisioning operan, modeling.
2. Obsesif Kompulsif
obsesif
adalah pemikiran yang berulang dan terus-menerus. Sedangkan kompulsif adalah
pelaksanaan dari pemikirannya tersebut. Perilaku ini merupakan ritual
pembebasan dari dosa pada orang tersebut. dengan mencuci tangan ia berharap
bisa membersihkan dari dosa yang telah ia perbuat. obsesif kompulsif ini
biasanya cenderung pada perilaku bersih-bersih. Perilaku seperti ini sebenarnya
banyak terjadi pada lingkungan kita tetapi, kita kadang malah menganggap
perilaku ini wajar.
Obsesi: pikiran yang berkali-kali datang yang mengganggu - tampak
tidak rasional - tidak dapat dikontrol → mengganggu hidup. dapat berbentuk
keragu-raguan yang ekstrim, penangguhan tidak dapat membuat keputusan.pasien
tidak dapat mengambil kesimpulan.
Kompulsi: impuls yang tidak dapat ditolak mengulangi tingkah laku
ritualistik berkali-kali. Kompulsi sering berhubungan dengan kebersihan dan
keteraturan. Penderita merasa apa yang dilakukannya asing.
Ada 5 bentuk obsesi:
a. Kebimbangan yang obsesif: pikiran
bahwa suatu tugas yang telah selesai tidak secara baik (75% dari pasien).
b. Pikiran
yang obsesif: pikiran berantai yang tidak ada akhirnya. Biasanya fokus pada
kejadian yang akan datang (34% dari pasien).
c. Impuls yang obsesif; dorongan untuk melakukan suatu
perbuatan (17%).
d. Ketakutan yang obsesi kecemasan untuk
kehilangan kontrol dan melakukan sesuatu yang memalukan (26%)
e. Bayangan obsesif: bayangan terus menerus mengenai
sesuatu yang dilihat (7%).
Ada 2 macam Kompulsif
a. Dorongan kompulsif yang memaksa suatu
perbuatan: melihat pintu berkali-kali (61%).
b. Kompulsi mengontrol: mengontrol
dorongan kompulsi (tidak menuruti dorongan tersebut): mengontrol dorongan
dengan berkali-kali menghitung sampai 10.
Penyebab:
Psikoanalitik: fiksasi masa anal. Adler: anak terhalang mengembangkan kompetensinya → rendah diri → secara tidak sadar mengembangkan ritual yang kompulsif untuk membuat daerah yang dapat dikontrol dan merasa mampu → membuat orang tersebut merasa menguasai cara menguasai sesuatu.
Teori Belajar: Kondisioning operan. Tingkah laku yang dipelajari yang dikuatkan akibat-akibatnya. Terapi sama dengan fobia dan GAD.
Psikoanalitik: fiksasi masa anal. Adler: anak terhalang mengembangkan kompetensinya → rendah diri → secara tidak sadar mengembangkan ritual yang kompulsif untuk membuat daerah yang dapat dikontrol dan merasa mampu → membuat orang tersebut merasa menguasai cara menguasai sesuatu.
Teori Belajar: Kondisioning operan. Tingkah laku yang dipelajari yang dikuatkan akibat-akibatnya. Terapi sama dengan fobia dan GAD.
3. Post Traumatik-Stress
Disorder (PTSD/ Gangguan Stress Pasca Trauma)
PTSD
merupakan kecemasan akibat peristiwa traumatik yang biasanya dialami oleh
veteran perang atau orang-orang yang mengalami bencana alam. PTSD biasnya
muncul beberapa tahun setelah kejadian dan biasanya diawali dengan ASD, jika
lebih dari 6 bulan maka orang tersebut dapat mengembangkan PTSD.
Simtom dan diagnosis: Akibat kejadian traumatik atau
bencana yang tingkatnya sangat buruk: perkosaan, peperangan, bencana alam,
ancaman yang serius terhadap orang yang sangat dicintai, melihat orang lain
disakiti atau dibunuh. Akan berakibat tidak dapat konsentrasi, mengingat, tidak
dapat santai, impulsif, mudah terkejut, gangguan tidur, cemas, depresi, mati
rasa; hal-hal yang menyenangkan tidak menarik lagi, ada perasaan asing terhadap
orang-lain dan yang lampau. Kalau trauma dialami bersama orang lain, dan yang
lain mati: ada rasa bersalah, sering terjadi mimpi buruk atau gangguan tidur.
Gangguan
pasca trauma dapat akut, kronis atau lambat, trauma akibat orang, perang,
serangan fisik atau penganiayaan berlangsung lebih lama daripada trauma setelah
bencana alam. Simtom memburuk jika dihadapkan kepada situasi yang mirip. Dapat
terjadi pada anak dan orang dewasa. Simtom pada anak: mimpi tentang monster
atau perubahan tingkah laku. Riwayat psikopatologi pada keluarga memegang
peranan penting
Perlakuan: Dapat melalui terapi kelompok.
Dengan cara ini penderita mendapatkan support dari teman-temannya.
4. GAD (Generalized Anxiety Desease: Gangguan Kecemasan
Tergeneralisasikan)
Tanda-tanda: kecemasan kronis terus menerus
rnencakup situasi hidup (cemas akan terjadi kecelakaan, kesulitan finansial).
Ada keluhan somatik: berpeluh, merasa panas, jantung berdetak keras, perut
tidak enak, diare, sering buang air kecil, dingin, tangan basah, mulut kering,
tenggorokan terasa tersumbat, sesak nafas, hiperaktivitas sistem saraf otonomik.
Merasa ada gangguan otot: ketegangan atau rasa sakit pada otot terutama pada
leher dan bahu, pelupuk mata berkedip terus, bcrgetar, mudah lelah, tidak mampu
untuk santai, mudah terkejut, gelisah, sering berkeluh. Cemas akan terjadinya
bahaya, cemas kehilangan kontrol, cemas akan mendapatkan.serangan jantung,
cemas akan mati. Sering penderita tidak sabar, mudah marah, tidak dapat tidur,
tidak dapat konsentrasi.
Penyebab: Psikoanalitik: konflik
antara impuls id dan ego yang tidak disadari. Impuls itu seksual atau agresif →
ingin keluar, dihalangi → tidak disadari → cemas. Teori belajar: kondisioning
klasik dari rangsang luar. Kognitif behavioral: memfokus kontrol dan
ketidakberdayaan.
Terapi: psikomatis sama dengan fobia.
5. Gangguan Panik
Tanda-tanda: sekonyong-sekonyong\sesak nafas,
detak jantung keras, sakit di dada, merasa tercekik, pusing, berpeluh,
bergetar, ketakutan yang sangat akan teror, ketakutan akan ada hukuman.
Depersonalisasi
dan derealisasi:
perasaan ada di luar badan, merasa dunia tidak nyata, ketakutan kehilangan
kontrol, ketakutan menjadi gila, takut akan mati. Terjadinya: sering, sekali
seminggu atau lebih sering. Beberapa menit. Dihubungkan dengan situasi khusus,
misalnya mengendarai mobil. Laki-laki 0,7 %, wanita 1%. 4 kali serangan panik
dalam 4 minggu, Satu serangan diikuti ketakutan terjadinya serangan lagi paling
sedikit 1 bulan. Serangan panik dapat diikuti agorafobia, 80% penderita panik
juga menderita gangguan kccemasan yang lain. Sering juga ada depresi. Sering penyebabnya
gangguan fisiologis, misalnya gangguan jantung.
C. PENDEKATAN PERSPEKTIF TEORITIS
Pada
kategori diagnostic utama psikopatologi secara garis besar di bagi menjadi dua
bagian yaitu neurosis dan psikosis. Neurosis
merupakan penyakit mental yang belum begitu menghawatirkan karena baru masuk
dalam kategori gangguan-gangguan, baik dalam susunan syaraf maupun kelainan
prilaku, sikap dan aspek mental lainnya. Dan gangguan kecemasan merupakan
psikopatologi yang neurosis.
Kecemasan
memiliki karakteristik berupa munculnya perasaan takut dan kehati-hatian atau
kewaspadaan yang tidak jelas dan tidak menyenangkan (Davison & Neale,2001,
Kaplan, Sadock, & Grebb 1994) mengemukakan takut dan cemas merupakan dua
emosi yang berfungsi sebagai tanda akan adanya suatu bahaya. Rasa takut muncul
jika terdapat ancaman yang jelas, berasal dari lingkungan dan tidak menimbulkan
konflik bagi individu sedangkan kecemasan muncul jika bahaya berasal dari dalam
diri, tidak jelas, atau menyebabkan konflik bagi individu. Menurut Davison
& Neale,2001 gangguan cemas berbeda dengan kecemasan normal dalam hal
intensitas durasi serta dampaknya bagi individu
Berdasarkan
sumbernya, Freud membedakan kecemasan menjadi dua yaitu kecemasan realitas
dan kecemasan neurotic. Kecemasan realitas adalah
yang berasal dari kecemasan yang nyata, sedangkan kecemasan neurotic yang
berasal dari motif dan konflik yang tidak disadari. Freud berpendapat kecemasan
neurotic muncul dari konflik intrapsikis, misalnya yang dijelaskan pada fobia
ketika dorongan id (seks & agresi) bertentangan dengan tuntutan super ego
atau dapat dikatakan dorongan id berlawanan dengan tuntutan lingkungan
eksternal, sehingga untuk menghindari sumber kecemasan internal tersebut ego
mengalihkannya ( melakukan displacement) kepada ancaman yang obyeknya
bisa diperoleh dari lingkungan.
Sebagaimana
yang dikutip oleh Kaplan, Sadock, & Grebb (1994) mengemukakan bahwa fungsi
utama dari kecemasan adalah memberi tanda kepada ego bahwa dorongan terlarang
yang berasal dari ketidak sadaran akan muncul ke kesadaran. Dan fobia
adalah hasil dari upaya untuk menghindar dari konflik yang direpres,
dan kecemasan yang timbul dialihkan pada obyek atau situasi yang memiliki
hubungan simbolik dengannya (yaitu stimulus yang ditakuti). Sedangkan pada gangguan
cemas menyeluruh (generalized anxiety disorder), dalam sudut pandang
psikoanalisa bersumber dari konflik tidak sadar antara ego dan impuls dari id,
yaitu ego yang menahan untuk memenuhi dorongan karena karena khawair dengan
hukuman yang diterima. Konflik antara id dan ego ini berlangsung secara terus
menerus, dan penderita tidak mampu memindahkannya pada obyek tertentu seperti
pada fobia, hal ini menjadikan kecemasan muncul hamper setiap saat.
Dalam
pandangan Psikodinamika modern sepakat pada pandangan Freud tentang gejala
kecemasan merupakan pertahanan terhadap konflik, tapi sumber kecemasan tidak
terbatas pada dorongan biologis saja melainkan mencakup tuntutan dan frustasi
yang berasal dari lingkungan social dan hubungan interpersonal. Misalnya seseorang
yang tak berani berbicara didepan umum, sumber masalahnya menurut teori ini
adalah berasal dari perasaan rendah dirinya. Orang dengan kepercayaan diri yang
rendah akan merasa cemas pada situasi dimana dia bisa dilihat, dinilai atau
dikritik orang lain, dan dia akan cenderung menghindari situasi tersebut.
Psikodinamika berasumsi bahwa bahwa gejala kecemasan hanyalah indicator adanya
masalah yang lebih mendalam dan tidak disadari.
Kemudian
pada behaviorisme lebih menekankan pada perilaku maladaptive tersebut, perilaku
maladaptive seperti gangguan fobia dapat dijelaskan dengan prinsip belajar,
antara lain:
1. UCS →
CS → UCR
2.
Modelling --- Ketakutan yang dipelajari atau didapat dari instruksi
verbal/deskripsi dari orang lain.
3.Devisit dalam ketrampilan social
Dalam teori ini dikatakan bahwa salah satu yang
merupakan penyebab kecemasan adalah kurangnya ketrampilan social.
Pada sudut
pandang kognitif kecemasan berhubungan dengan kecenderungan untuk lebih
memperhatikan stimulus negatif, menginterpretasikan informasi yang ambigu
sebagai ancaman dan percaya bahwa peristiwa-peristiwa yang tidak menyenangkan
akan terjadi lagi dimasa mendatang (matthew dan Mc Leod dalam Davison &
Neale, 2001).
D.TERAPI GANGGUAN KECEMASAN
Pendekatan-pendekatan
psikologis berbeda satu sama lain dalam tekhnik dan tujuan penanganan
kecemasan. Tetapi pada dasarnya berbagai tekhnik tersebut sama-sama mendorong
klien untuk menghadapi dan tidak menghindari sumber-sumber kecemasan mereka.
Dalam menangani gangguan kecemasan dapat melalui beberapa pendekatan:
1.
Pendekatan-Pendekatan Psikodinamika
Dari
perspektif psikodinamika, kecemasan merefleksikan energi yang dilekatkan kepada
konflik-konflik tak sadar dan usaha ego untuk membiarkannya tetap terepresi.
Psikoanalisis tradisional menyadarkan bahwa kecemasan klien merupakan
simbolisasi dari konflik dalam diri mereka. Dengan adanya simbolisasi ini ego
dapat dibebaskan dari menghabiskan energi untuk melakukan represi. Dengan
demikian ego dapat memberi perhatian lebih terhadap tugas-tugas yang lebih
kreatif dan memberi peningkatan. Begitu juga dengan yang modern, akan tetapi
yang modern lebih menjajaki sumber kecemasan yang berasal dari keadaaan
hubungan sekarang daripada hubungan masa lampau. Selain itu mereka mendorong
klien untuk mengembangkan tingkah laku yang lebih adaptif.
2.
Pendekatan-Pendekatan Humanistik
Para tokoh
humanistik percaya bahwa kecemasan itu berasal dari represi sosial diri kita
yang sesungguhnya. Kecemasan terjadi bila ketidaksadaran antara inner self
seseorang yang sesungguhnya dan kedok sosialnya mendekat ke taraf kesadaran.
Oleh sebab itu terapis-terapis humanistik bertujuan membantu orang untuk
memahami dan mengekspresikan bakat-bakat serta perasaan-perasaan mereka yang
sesungguhnya. Sebagai akibatnya, klien menjadi bebas untuk menemukan dan
menerima diri mereka yang sesunggguhnya dan tidak bereaksi dengan kecemasan
bila perasaan-perasaan mereka yang sesungguhnya dan kebutuhan-kebutuhan mereka
mulai muncul ke permukaan.
3.
Pendekatan-Pendekatan Biologis
Pendekatan
ini biasanya menggunakan variasi obat-obatan untuk mengobati gangguan
kecemasan. Diantaranya golongan benzodiazepine, Valium dan Xanax
(alprazolam). Meskipun benzodiazepine mempunyai efek menenangkan, tetapi
dapat mengakibatkan depensi fisik. Obat
antidepresi mempunyai efek anti kecemasan
dan anti panik selain juga mempunyaiefek
antidepresi.
4.
Pendekatan-Pendekatan Belajar
Efektifitas
penanganan kecemasan dengan pendekatan belajar telah banyak dibenarkan oleh
beberapa riset. Inti dari pendekatan belajar adalah usaha untuk membantu
individu menjadi lebih efektif dalam menghadapi situasi yang menjadi penyebab
munculnya kecemasan tersebut. Ada beberapa macam model terapi dalam pendekatan
belajar, diantaranya:
a. Pemaparan Gradual
Metode ini
membantu mengatasi fobia ataupun kecemasan melalui pendekatan setapak demi
setapak dari pemaparan aktual terhadap stimulus fobik. Efektifitas terapi
pemaparan sudah sangat terbukti, membuat terapi ini sebagai terapi pilihan
untuk menangani fobia spesifik. Pemaparan gradual juga banyak dipakai pada
penanganan agorafobia. Terapi bersifat bertahap menghadapkan individu yang
agorafobik kepada situasi stimulus yang makin menakutkan, sasaran akhirnya
adalah kesuksesan individu ketika dihadapkan pada tahap terakhir yang merupakan
tahap terberat tanpa ada perasaan tidak nyaman dan tanpa suatu dorongan untuk
menghindar. Keuntungan dari pemaparan gradual adalah hasilnya yang dapat
bertahan lama. Cara Menanggulangi ataupun cara membantu memperkecil kecemasan:
b. Rekonstruksi
Pikiran
Yaitu
membantu individu untuk berpikir secara logis apa yang terjadi sebenarnya.
biasanya digunakan pada seorang psikolog terhadap penderita fobia.
c. Flooding
Yaitu
individu dibantu dengan memberikan stimulus yang paling membuatnya takut dan
dikondisikan sedemikan rupa serta memaksa individu yang menderita anxiety untuk
menghadapinya sendiri.
d.
Terapi Kognitif
Terapi
yang dilakukan adalah melalui pendekatan terapi perilaku rasional-emotif,
terapi kognitif menunjukkan kepada individu dengan fobia sosial bahwa
kebutuhan-kebutuhan irrasional untuk penerimaan-penerimaan sosial dan
perfeksionisme melahirkan kecemasan yang tidak perlu dalam interaksi sosial.
Kunci terapeutik adalah menghilangkan kebutuhan berlebih dalam penerimaan
sosial. Terapi kognitif berusaha mengoreksi keyakinan-keyakinan yang
disfungsional. Misalnya, orang dengan fobia sosial mungkin berpikir bahwa tidak
ada seorangpun dalam suatu pesta yang ingin bercakap-cakap dengannya dan bahwa
mereka akhirnya akan kesepian dan terisolasi sepanjang sisa hidup mereka.
Terapi kognitif membantu mereka untuk mengenali cacat-cacat logis dalam pikiran
mereka dan membantu mereka untuk melihat situasi secara rasional. Salah satu
contoh tekhnik kognitif adalah restrukturisasi kognitif, suatu proses dimana
terapis membantu klien mencari pikiran-pikiran dan mencari alternatif rasional
sehingga mereka bisa belajar menghadapi situasi pembangkit kecemasan.
e. Terapi
Kognitif Behavioral (CBT)
Terapi ini
memadukan tehnik-tehnik behavioral seperti pemaparan dan tehnik-tehnik kognitif
seperti restrukturisasi kognitif. Beberapa gangguan kecemasan yang mungkin
dapat dikaji dengan penggunaan CBT antara lain : fobia sosial, gangguan stres
pasca trauma, gangguan kecemasan menyeluruh, gangguan obsesif kompulsif dan
gangguan panik.
Pada fobia sosial, terapis membantu membimbing mereka selama percobaan pada pemaparan dan secara bertahap menarik dukungan langsung sehingga klien mampu menghadapi sendiri situasi tersebut.
Pada fobia sosial, terapis membantu membimbing mereka selama percobaan pada pemaparan dan secara bertahap menarik dukungan langsung sehingga klien mampu menghadapi sendiri situasi tersebut.
E.MENCEGAH KEMUNCULAN GANGGUAN KECEMASAN
1.
Kontrol pernafasan yang baik
Rasa cemas
membuat tingkat pernafasan semakin cepat, hal ini disebabkan otak
"bekerja" memutuskan fight or flight ketika respon stres
diterima oleh otak. Akibatnya suplai oksigen untuk jaringan tubuh semakin
meningkat, ketidakseimbangan jumlah oksigen dan karbondiosida di dalam otak
membuat tubuh gemetar, kesulitan bernafas, tubuh menjadi lemah dan gangguan
visual. Ambil dalam-dalam sampai memenuhi paru-paru, lepaskan dengan
perlahan-lahan akan membuat tubuh jadi nyaman, mengontrol pernafasan juga dapat
menghindari srangan panik.
2.
Melakukan relaksasi
Kecemasan
meningkatkan tension otot, tubuh menjadi pegal terutama pada leher,
kepala dan rasa nyeri pada dada. Cara yang dapat ditempuh dengan melakukan
teknik relaksasi dengan cara duduk atau berbaring, lakukan teknik pernafasan,
usahakanlah menemukan kenyamanan selama 30 menit.
3.
Intervensi kognitif
Kecemasan
timbul akibat ketidakberdayaan dalam menghadapi permasalahan, pikiran-pikiran
negatif secara terus-menerus berkembang dalam pikiran. caranya adalah dengan
melakukan intervensi pikiran negatif dengan pikiran positif, sugesti diri
dengan hal yang positif, singkirkan pikiran-pikiran yang tidak realistik. Bila
tubuh dan pikiran dapat merasakan kenyamanan maka pikiran-pikiran positif yang
lebih konstruktif dapat meuncul. Ide-ide kreatif dapat dikembangkan dalam
menyelesaikan permasalahan.
4.
Pendekatan agama
Pendekatan
agama akan memberikan rasa nyaman terhadap pikiran, kedekatan terhadap Tuhan
dan doa-doa yang disampaikan akan memberikan harapan-harapan positif.
Dalam
Islam, sholat dan metode zikir ditengah malam akan memberikan rasa nyaman dan
rasa percaya diri lebih dalam menghadapi masalah. Rasa cemas akan turun.
Tindakan bunuh diri dilarang dalam Islam, bila iman semakin kuat maka dorongan
bunuh diri (tentamina Suicidum) pada simtom depresi akan hilang. Metode zikir
(berupa Asmaul Husna) juga efektif menyembuhkan insomnia.
5.
Pendekatan keluarga
Dukungan
(supportif) keluarga efektif mengurangi kecemasan. Jangan ragu untuk menceritakan
permasalahan yang dihadapi bersama-sama anggota keluarga. Ceritakan masalah
yang dihadapi secara tenang, katakan bahwa kondisi Anda saat ini sangat tidak
menguntungkan dan membutuhkan dukungan anggota keluarga lainnya. Mereka akan
berusaha bersama-sama Anda untuk memecahakan masalah Anda yang terbaik.
6.
Olahraga
Olahraga
tidak hanya baik untuk kesehatan. Olaharaga akan menyalurkan tumpukan stres
secara positif. Lakukan olahraga yang tidak memberatkan, dan memberikan rasa
nyaman kepada diri A
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Kecemasan
merupakan suatu sensasi aphrehensif atau takut yang menyeluruh. Dan hal
ini merupakan suatu kewajaran atau normal saja, akan tetapi bila hal ini
terlalu berlebihan maka dapat menjadi suatu yang abnormal. Sedangkan gangguan
kecemasan yang menyeluruh adalah suatu tipe gangguan kecemasan yang melibatkan
kecemasan persisten yang sepertinya “mengapung bebas” (Free floating)
atau tidak terikat pada suatu yang spesifik.
Ciri
penderita gangguan kecemasan antara lain:
Ciri
Fisik :
1. Gelisah
2.
Berkeringat
3. Jantung
berdegup kencang
Ciri
Perilaku:
1.
Perilaku menghindar
2.
Perilaku dependen
Ciri
Kognitif
1. Merasa
tidak bisa mengendalikan semua
2. Merasa
ingin melarikan diri dari tempat tersebut
3. Serasa
ingin mati
Untuk
meminimalisir terjadinya kecemasan pada diri seseorang terdapat beberapa
terapi. Psikoanalisis radisional membantu orang untuk mengatasi konflik-konflik
tak sadar yang diyakini mendasari gangguan-gangguan kecemasan.
Pendekatan-pendekatan psiko- dinamika yang modern lebih berfokus pada gangguan
relasi yang ada dalam kehidupan klien saat ini dan mendorong klien untuk
mengembangkan pola tingkah laku yang lebih adaptif. Terapi humanistik lebih
berfokus pada membantu klien mengidentifikasi dan menerima dirinya yang sejati
dan bukan bereaksi pada kecemasan setiap kali perasaan-perasaan dan
kebutuhan-kebutuhannya yang sejati mulai muncul ke permukaan. Sedangkan untuk terapi
obat, berfokus pada penggunaan obat benzodiazepin dan obat-obat antidepresen
(yang mempunyai efek lebih daripada hanya sebagai antidepresan).
Pendekatan-pendekatan
dengan dasar belajar dalam menangani kecemasan melibatkan berbagai macam teknik
behavioral dan kognitif-behavioral, termasuk terapi pemaparan, restrukturisasi
kognitif, pemaparan dan pencegahan respon, serta pelatihan keterampilan
relaksasi. Pendekatan-pendekatan kognitif seperti terapi tingkah laku
rasional-emotif dan terapi kognitif, membantu orang untuk mengidentifikasi dan
membetulkan pola-pola pikir yang salah yang melandasi reaksi-reaksi kecemasan.
Untuk terapi kognitif-behavioral, menangani gangguan panik, melibatkan
self-monitoring, pemaparan, dan pengembangan respons-respons adaptif terhadap
sinyal-sinyal pembangkit kecemasan.
DAFTAR PUSTAKA
Supratinya,A. 1995. Mengenal
Perilaku Abnormal. Yogyakarta: Kanisius.
LAB/UPF Ilmu Kedokteran Jiwa.
1994. Pedoman Diagnosis Dan Terapi.
Surabaya: Fakultas kedokteran Universitas Airlangga dan RSUD Dr. Soetomo.
Panggabean, L. (2003). Pengembangan
Kesehatan Perkotaan ditinjau dari Aspek Psikososial. (makalah). Direktorat
Kesehatan Jiwa Masyarakat DepKes. Rs. Tidak dipublikasikan
Prof. Dr. Sutardjo A. Wiramihardja.
2005. Pengantar Psikologi Abnormal. Bandung: PT. Refika Aditama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar